Aku Tak Sendiri
Di suatu hari yang begitu sibuk, aku hanya termenung sambil memegang secangkir kopi yang telah mendingin. Kopi itu bagaikan ambisi ku yang hanya panas diawal cerita namun ntah kenapa mendingin secara tiba tiba. "Ya, tapi apa boleh buat itu kan sifat manusia?" Ucap logika insan ku. Pemikiran itu bagaikan alunan musik yg kudengar malam itu. Oh iya aku baru ingat, malam itu bagaikan bagaikan penjara bagi ku yg mendorong ku kedalam kesendirian sedangkan bintang bintang bersinar tanpa adanya rasa takut jika sinar itu direbut oleh bintang jahat? Langit menjingga malam pun berbicara aku berniat menghampiri warung yang begitu kecil. Aku membeli dan mengambil 1 hal yang banyak orang bilang adalah barang tak berguna secara harfiah. Namun bagiku 1 hal ini lah yang dapat ku andalkan setiap kali nya. kobaran api kebencian ku mulai memadam. Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Segera aku bersiap untuk pergi dengan tanpa adanya tujuan. Ya itu lah hidupku bagaikan sebuah film pendek yg diputar berulang kali, cukup membosankan. Alih alih hidup ku bagaikan template, malam itu tepat nya jam 22.30 aku mendadak berencana menjernihkan pikiran ku kemudian. Saat aku memasuki ruko tersebut, aku hanya bisa melihat pemdangan yg begitu ramai serta suasana yg begitu hangat diadalamnya aku pikir itu akan menjadi sebuah momen terbaru bagiku. Aku hanya memesan secangkir kopi dengan creamer diatasnya, sambil menunggu aku berharap ada insan yg hendak menghampiri ku dan bercengkrama bersama, "heh sudah kuduga tidak ada satu pun insan yg mendekati ku" Ucap ku. Saat kopi ku tiba aku mencari tempat yg jauh dri keramaian, aku menempati lantai 2 yg hanya terdapat 2-3 org didalamnya, aku pun melangkah keluar menuju balkon dan meminum secangkir kopi dan menikmati nya di malam yg begitu hampa ini. Alunan musik menjadi saksi kesendirian ku.
Keesokan hari nya orang orang beraktivitas seperti biasanya. Matahari begitu bercahaya seakan menjunjung hangat nya suasana dunia. Aku terbangun dengan rasa sakit yang ku alami beberapa hari kebelakangan ini, yaitu vertigo jangan tanya aku apa penyebabnya. aku mengambil secangkir kopi untuk menenagkan pikiran ku dan merenggakan tubuh ku sejenak, Mendadak, aku dikagetkan dengan suara yang berasal dari gawai ku, Saat melihat apa isi nya, sangat terheran heran bahwa ada yang menelponku dan tak hanya itu aneh nya lagi oknum ini adalah sahabat SMA ku. Suara deringan telepon yg terdengar sangat dibelakang nya sudah memberi ku jawaban bahwa sahabat ku adalah bagian dri sekumpulan banyak orang yang ku lihat beberapa jam yang lalui. Saat ku mendengar sahabat ku berucap dia berucap dengan intonasi tak biasanya dia seakan bingung serta banyak beban yang memenuhi isi otak nya.
Aku dan sahabatku memulai cengkrama, saling bertukar nasib dan saling mengingat serta membuka arsipan memori atau kenangan yg terjadi semasa kita SMA. Tawa dan tangis terjadi saat itu yang membuka mata ku dan menyadarkan ku selama ini aku tidak dihantui dengan kesendirian namun aku lah yang tanpa sadar telah membuat semua ini. Tak terbayang jika sahabat ku tak datang utk menyempatkan waktunya untuk berbicara dan bercerita kepada ku, sudah pasti aku akan tenggelam di lautan kesedihan. Namun untungnya aku bangkit dan mencari jalan keluar dari semua ini,aku baru saja memulai kehidupan ku bagaikan TV series yang baru saja dimulai. Tanpa tahu apa yg terjadi di ujung cerita membuat ambisi ku menyala lagi dengan mempertahankan kepercayaan diri ku bahwa aku tak sendiri.
Komentar
Posting Komentar